Selasa, 21 Juni 2016

Budidaya Kacang Hijau

Tanaman Kacang hijau ( Vigna radiata L ) Merupakan salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang masih berfamili dengan  leguminasae yaitu kacang tanah atau kacang-kacangan lainnya. Tanaman ini sudah banyak di kenal masyarakat indonesia yang menyebar luas keberbagai daerah terpencil. Tanaman ini diduga berasal dari kawasan india.
Tanaman semusim didefinisikan sebagai tanaman yang menyelesaikan satu siklus hidupnya dalam satu musim tanam. Hasil komoditas tanaman semusim pada umumnya merupakan kebutuhan pangan pokok bagi masyarakat, seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan shorgum.padi merupakan makanan poko terutama bagi penduduk Indonesia, sedangkan jagung dan shorgum merupakan sumber karbohidrat selain padi. Komoditas kacang-kacangan pada umumnya merupakan sumber protein nabati.
Satu-satunya cara untuk memperoleh komoditas bahan-bahan pangan tersebut adalah melalui usaha budidaya tanaman atau produksi tanaman (crop production). Sampai saat ini belum ditemukan metode lain untuk tujuan tersebtu. Oleh karena itu, teknik-teknik budidaya tanaman khususnya tanaman semusim wajib dikuasai terutama oleh pelaku-pelaku bidang pertanian termasuk di dalamnya mahasiswa fakultas pertanian.
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini selain banyak mengandung zat-zat gizi juga bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara agronomis dan ekonomis, tanaman kacang hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman kacang-kacangan lainnya. Meskipun tanaman kacang hijau memiliki banyak manfaat, namun tanaman ini masih kurang mendapatkan perhatian petani untuk dibudidayakan. Permintaan pasar terhadap kacang hijau terus mengalami peningkatan sedangkan produksi di dalam negeri masih rendah. Sebagian besar kebutuhan kacang hijau domestik untuk pakan atau industri pakan dan sebagian lainnya untuk pangan, dan kebutuhan industri lainnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, produksi kacang hijau nasional juga berpeluang besar untuk memasok sebagian pasar kacang hijau dunia.
Tabel 1. Kandungan Gizi dalam Kacang Hijau
Kandungan Gizi
Kacang Hijau
Kalori (kal)
323
Protein (g)
22
Lemak (g)
1,5
Karbohidrat (g)
56,8
Kalsium (mg)
223
Zat besi (mg)
7,5
Fosfor (mg)
319
Vitamin A (SI)
157
Vitamin B1 (mg)
0,46
Vitamin C ( mg)
10
Air (g)
15,5

2.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
·            Kingdom    : Plantae
·            Divisi          : Spermatophyta
·            Kelas           : magnoliophyta
·            Ordo           : Rosales
·            Famili          : leguminasae
·            Genus         : vigna
·            Spesies        : Vigna radiata L

2.2 Morfologi Kacang hijau
a. Batang
Tanaman kacang hijau memiliki batang berbatang tegak dengan tinggi mencapai 53 cm. Cabang menyamping pada batang utama, berbentuk bulat dan berbulu. Memiliki warna batang dan cabang hijau dan bila sudah tua batang berubah menjadi kecoklatan.

b. Daun
Tanaman kacang hijau memiliki daun tiga helai dan memiliki letak berseling, tangkai daun yang cukup panjang. Tanaman ini memiliki daun berwarna hijau dan kekuningan jika sudah layu atau mau gugur.
c. Bunga
Tanaman kacang hijau memiliki bunga berwarna kuning yang akan muncul 28 – 33 hari, tersusun, dalam tandan, dan muncul pada batang. Pada tanaman ini terjadinya bunga terjadinya penyerbukaan sendiri.
d. Polong atau kacang
Tanaman kacang hijau memiliki polong berbentuk selindris  dengan panjang 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Pada waktu mudah warna polong berwarna hijau, namun jika suda tua berwarna kehitaman atau coklat. Satu plog berisi 10-15 biji.
e. Biji
Tanaman kacang hijau memiliki kacang lebih kecil di banding dengan kacang lainnya. Warna kacang hijau kebanyakan berwarna hijau atau hijau mengkilat.dan ada juga berearna kuning, coklat dan hitam.

2.3 Pedoman Budidaya
Dalam penanaman juga kita melihat terhada yakni:
a. Benih.
·         Benih berasal dari tanaman sehat, bebas hama dan penyakit, kualitas bijinya baik dan mempunyai kemurnian tinggi sehingga dapat berkecambah cepat dan merata.
·         Dipanen tepat pada waktunya ( sudah cukup tua ) , polong tidak pecah, pengolahan basil dan pengupasan benih dilakukan dengan baik.
·         Mempunyai hasil tinggi dan berumur genjah.
Tabel 2. Jenis varietas tanaman kacang hijau

b. Pengolahan Tanah
Pada lahan bekas padi (Sawah dan Ladang), tak butuh diperbuat pengolahan tanah/lahan, yang tak jarang disebut dengan istilah Tanpa Olah Tanah (TOT). Budidaya di bekas area penanaman padi, tunggul padi butuh dipotong singkat dan dibersihkan alias dipinggirkan. Jika tanah becek maka butuh dibangun saluran drainase dengan jarak 3-5 m. Pada lahan Tegalan alias bekas Tanaman Palawija, sepert jagung alias tipe lainnya, butuh diperbuat pengolahan tanah. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan. Saluran pengairan dibangun dengan jarak 3-5 m.
c. Penanaman
·         Waktu tanam
Waktu tanam yang paling baik dilahan tegalan ( kering ) adalah pada awal musim hujan ( Oktober – Nopember ). Di lahan sawah penanaman dapat dilakukan pada bulan April -Juni ( Palawija I ) atau bulan Juli -September) Palawija II ).
·         Cara tanam
Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal sedalam 3 cm dengan 2 butir benih perlubang dan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Kemudian lubang tanam ditutup tanah secara tipis.
d.   Pemeliharaan Tanaman
·         Pemupukan
Pemupukan yang dilakukan dengan cara semi organic yaitu penggunaan pupuk kandang atau pupuk organic sebagai pupuk dasar selanjutnya pemupukan dilakukan setelah 25 dan 45 hari setelah tanam dengan menggunakan pupuk Urea, SP36 dan KCI dengan dosis 60-90 kg Urea, 60-90 kg SP36 dan 50 kg KCI per-hektar. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk kedalam lubang tugal disisi kiri kanan lubang tanam atau disebar merata kedalam larikan.
·         Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh. Penyulaman dilakukan dengan membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu. Tujuan dari penyulaman ini adalah untuk mempertahankan populasi.
·         Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 40 bari setelah tanam. Pada penyiangan kedua ini juga dilakukan pembumbunan yaitu tanah digemburkan kemudian ditimbun didekat pangkal batang tanaman..
·         Pengairan
Tanaman kacang tanah tidak menghendaki air yang menggenang. Fase kritis untuk tanaman Kacang Tanah adalah rase perkecambahan, rase pertumbuhan dan fase pengisian polong. Waktu pengairan yang baik adalah pagi atau sore hari.
e.   Hama dan Penyakit Kacang Tanah
·         Penyakit Layu.
Penyakit Layu disebabkan oleh bakteri Xanthomonas solanacearum. Pada siang hari waktu sinar matahari terik tanaman sekonyong-konyong terkulai seperti disiram air panas, tanaman langsung mati. Cara pengendalian dengan pergiliran tanaman.

·         Penyakit Bercak Daun
Penyakit Bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora personata. Bercak yang ditimbulkan pada daun sebelah atas coklat sedangkan sebelah bawah daun hitam. Ditengah bercak daun kadang-kadang terdapat bintik hitam dari Conidiospora. Cendawan ini timbul pada tanaman umur 40 -50 hari hingga 70 hari. Cendawan ini dapat dikendalikan dengan Anthmcol atau Daconil.
·         Penyakit Selerotium.
Penyakit ini disebabkan oleh Selerotium rolfsi, merusak tanaman pada waktu cuaca lembab. Cendawan menyerang pada pangkal batang, bagian dari tanaman yang lunak, menimbulkan bercak-bercak hitam. Tanaman yang terserang akan layu dan mati.
Pengendalian : dengan memperbaiki pengairan, agar pengairan dapat mengalir.
·         Penyakit Karat.
Penyakit ini disebabkan oleh Uromyces arachidae, menyerang tanaman yang masih muda menyebabkan daun berbintik-bintik coklat daun menjadi mongering. Pengendaliannya dengan menanam varitas yang tahan.
·         Lalat kacang (Agromyza phaseoli Coq.)
Gejala awal berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama.
Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar adventif di bagian terbawah dari batang.
Sejauh yang diketahui, serangannya tidak sehebat pada tanaman kedelai. Hal ini disebabkan karena keping biji kacang hijau yang masih muda mudah rontok ketika diserang sehingga tidak memberi kesempatan pada serangga tersebut untuk bertelur.
Lalat kacang (Agromyza phaseoli Caq.) sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam mengilap. Perkawinannya (kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00-10.00 pagi. Waktu matahari bersinar terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat tanaman kacang hijau. Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan pada keping biji atau pada daun pertama.
Setelah telur menetas, belatungnya menggerek dan memakan keping biji atau daun sehingga terbentuk liang. Belatung ini akan terus menggerek ke tangkai daun dan masuk ke dalam batang sampai pangkal akar, Kepompong atau pupanya berwarna cokelat kuning. Pada setiap batang tanaman yang diserang rata-rata terdapat 4-5 pupa.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami Agromyzae Dodd, Eurytoma poloni, Eurytoma sp., dan Cynipid. Selain itu, dapat pula dilakukan penyemprotan insektisida pada pagi hari, pada saat umur tanaman 4-10 HST.
·         Penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.)
Gejala serangannya terlihat pada kulit polong berupa bercak hitam dan bila dibuka terdapat larva yang gemuk dengan kotoran-kotorannya berwarna hijau basah. Serangan pada polong kedua ditandai dengan satu lubang gerek yang bentuknya bundar.
Hama penyebabnya adalah penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.). Penggerek polong kacang hijau sama dengan penggerek polong pada kedelai. Larva yang baru menetas menggerek masuk ke dalam polong menuju ke bagian bawah. Larva ini memakan biji di dalam polong sampai habis kemudian berpindah ke polong lain. Bentuk larvanya gemuk dan licin, larva yang masih kecil berwarna merah kebiru-biruan.
Hama ini dapat dikendalikan dengan cara mengatur waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, dan upaya penanaman secara serentak. Dapat juga dilakukan penyemprotan insektisida dekametrin, sihalotrin, dan monokrotofos.
·         Ulat jengkal kedeias (Plusia chalcites Esp.)
Ulat ini menyerang tanaman yang sudah agak tua dan memakan daunnya sehingga tinggal tulangnya saja.
Hama penyebabnya adalah ulat jengkal kedelai (PIusia chalcites Esp.). Tubuhnya berwarna hijau. Bentuk dewasanya berupa kupu-kupu. Telur kupu-kupu ini diletakkan berkelompok sebanyak 50 butir. Stadium telurnya selama 3 hari. Larva tersebut akan menjadi kepompong di antara daun yang dianyam menjadi satu. Stadium pupanya selama 6 hari.
Pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan telur dan larva, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida dekametrin, sihalotrin, diflubenzuron atau monokrotofos.
·         Kepik padi hijau (Nezara viridula)
Polong muda isinya terisap. Bila polong dibuka tampak bijinya pipih tanpa isi. Bagian yang terserang tampak berbercak hitam. Hama penyerang adalah kepik padi hijau (Nezara viridula). Kepik ini meletakkan telurnya yang berwarna kuning secara massal di permukaan bawah daun. Kelompok telurnya 5-10 butir. Stadium telumya selama 6 hari. Setelah telur menetas, larvanya berkumpui di polong dalam kelompok besar. Stadium larvanya selama 30 hari. Masa pertumbuhan dari telur hingga dewasa selama 36 hari.
Pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan imago, telur, dan nimfa, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida metamidofos dan karbaril. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan penanaman serempak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 26 hari.
·         Thrips sp.
Serangan hama ini menyebabkan daun menggulung ke dalam (keriting) karena sel-sel di bagian atasnya mengerut. Kutu Thrips menyerang tanaman dengan mengisap cairan tanaman sehingga mengganggu proses fotosintesis dan mengakibatkan menurunnya hasil. Penurunannya dapat mencapai 60%, bahkan tidak menghasilkan sama sekali (puso) bila serangannya berat. Pantas jika hewan ini merupakan hama yang paling berbahaya bagi tanaman kacang hijau. Selama fase vegetatif tanaman, serangan hama ini sangat rendah.
Pengendalian dengan menggunakan insektisida metamidofos, karbaril, atau monokrotofos.
·         Kumbang Callosobruchus
Kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang baru menetas langsung menggerek masuk ke dalam biji dan memakan kotiledon serta bagian biji lainnya. Kumbang Calloso-bruchus maculatus yang menyerang biji. Siklus hidup kumbang ini, pada biji kacang hijau varietas MB 129, berlangsung antara 23-28 hari. Kemampuan bertelur kumbang betina antara 40-90 butir. Persentase telur yang dapat menetas hingga menjadi dewasa sebesar 19-98. Perbandingan antara jantan dewasa dan betinanya 1:1.
Biji sebaiknya disimpan dalam kantong plastik, karung plastik, atau kaleng yang tertutup rapat. Biji atau benih yang akan disimpan hams berkadar air rendah dalam kemasan kedap udara. Kadar air biji 90 dalam kemasan dapat mempertahankan biji selama 6 bulan. Cara lain yaitu dengan melakukan fumigasi dengan aluminium fosfit atau metil bromida atau dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif pirimiphos metil, femitrothion, atau metacrifos pada permukaan kemasan.

2.4 Panen dan Pasca Panen
Penentuan saat panen yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan produk Kacang Tanah. Pedoman umum yang digunakan sebagai kriteria penentuan saat panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :
Ø  Sebagian besar daun menguning dan gugur ( rontok ).
Ø  Tanaman berumur 58-75 tergantung varietasnya. Sebagian besar polongnya (80%) telah tua.
Ø  Kulit polong cukup keras dan berwarna cokelat kehitam-hitaman.
Ø  Kulit biji tipis dan mengkilap.
Ø  Rongga polong telah berisi penuh dengan biji.
Ø  Pengeringan polong dilakukan selama 2-3 hari dibawah sinar matahari. Pembijian dilakukan secara manual yaitu dipukul-pukul dengan tongkat kayu. Pembijian dilakukan di dalam kantong atau karung untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan niji dari kulit polong dilakukan dengan tampi. Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 - 10 %.
Ø  Biji yang sudah mencapai kadar air 8-9% ditampi atau diayak untuk memisahkan benih bagus dan benih jelek. Biji yang sudah disortir dimasukkan dalam kantong kantong plastik berukuran 5-10 kg, ditutup dengan sistem rapat udara (diikat kuat-kuat). Bila tidak tersedia kantong plastik dapat juga digunakan blek/kaleng minyak dan ditutup dengan parafin/lilin. Sebelum disimpan dalam blek, benih dicampur dengan abu dapur atau insektisida.

Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polongnya tidak tertinggal dalam tanah.

DAFTAR PUSTAKA

http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/699-bertanam-kacang-hijau
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://distantph.kalselprov.go.id/2014/03/24/mengenal-kacang-hijau/
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://www.smarttien.com/2012/02/budidaya-kacang-hijau-vigna-radiata-l.html
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://www.muradmaulana.com/2014/02/manfaat-kacang-hijau-dan-kandungan.html
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://www.ruangtani.com/8-panduan-lengkap-cara-budidaya-kacang-hijau-untuk-meningkatkan-penghasilan/ Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
Sumadi, Soeprapto Hardjo. 1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
http://www.dinpertan.grobogan.go.id/komoditas-16-cara-budidaya-tananman-kacang-hijau.html Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://www.tipsberkebun.com/cara-menanam-kacang-hijau-dengan-benar.html
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
http://www.petanihebat.com/2013/10/hama-tanaman-kacang-hijau.html
Diakses pada tanggal 10 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar