Selasa, 21 Juni 2016

Budidaya Tanaman Terung

Tanaman terung termasuk tanaman buah sayur berumur pendek (semusim), yang berbentuk semak perdu (herba). Tumbuhnya pendek dengan tinggi sekitar 50-150cm atau lebih, tergantung jenis atau varietasnya. Dalam ilmu Botani (tumbuhan), tanaman buah terung diklasifikasikan ke dalam:
Divisi                        : Spernatophyta (tanaman berbiji)
Sub divisi                  : Angiospermae (biji berada didalam buah)
Kelas                         : Dicotyledonae (biji belah atau berkeping dua)
Ordo (bangsa)           : Tubiflorae
Famili (suku)             : Solanacae
Genus (marga)          : Solanum
Spesies                      : Solanum mangolea L
Selain spesies Solanum Mangolea L, terung yang tergolong dalam genus Solanum memiliki spesies lain, misalnya Solanum khasianum CLARKE, Solanum laciniatu ait, Solanum grandifloru dan Solanum sanitwongsei, yang berdaya guna sebagai bahan makanan dan sayuran. Spesies-spesies tersebut dikoleksi oleh Badan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO),Bogor.(Cara dan Upaya Budidaya terung. Eriyandi Budiman.23)
Jenis – Jenis Terong
a. Terung unggu
Terong unggu merupakan salah satu jenis terong yang banyak di budidayakan di indonesia, karena harga jual yang tinggi dan juga permintaan yang sangat banyak. Terong unggu ini memiliki bentuk bulat memanjang, berwarna unggu mengkilap, memiliki kulit tipis, dan juga memiliki ujung tumpul. Selain itu, tangkai pada batang terong memiliki panjang sekitar 3-5 cm dan hampir menyerupai mahkota.
b. Terung telunjuk
Terong telunjuk ini sudah banyak di kenali dan populer di masyarakat. Selain itu kandungan di dalam terong ini sangat tinggi dan baik untuk kesehatan tubuh. Terong ini memiliki bentuk menyerupai telunjuk manusia, berwrna hijau mudah, memiliki garis berwrna putih, tangkai berwrna hijau tua dan kusam dengan panjang 2-3 cm dan memiliki daging lebih relatif sedikit di banding terong unggu. Secara umumnya berat pada terong terong telunjuk ini berkisar 1-2 ons perbuah.
c. Terung belanda
Terong belanda merupakan terong yang sangat di gemari dan di sukai banyak orang, karena terong ini biasa di buat jus dan olahan lainnya dan memiliki manfaat dan besar dan tinggi baik untuk kesehatan tubuh. Terong ini memiliki bentuk bulat, memiliki daging banyak, berwrna kemerahan, daging berwarna kekuningan dan kemerahan, dan memiliki biji yang sangat banyak. Biji tanaman ini berwrna hitam dan juga kecokatan, mengkilap dan juga berlendir.
d. Terung putih
Terong putih merupakan terong yang sangat di gemari juga, karena memiliki kenikmatan tersendiri. Kenikmatan itu berupa olahan dari masakan dan olahan lainnya, memiliki asupan gizi yang tinggi dan sangat baik untuk kesehatan. Terong ini memiliki bentuk beragam mulai dari bentuk bulat telur dan juga bulat lonjong berwrna putih, memiliki daging banyak berwrna putih, memiliki biji yang banyak berwrna hitam dan kecoklatan mengkilap dan berlendir sedikit.
e. Terung pipit
Terong pipit merupakan terong yang banyak di gemari dan di sukai masyarakat, karena terong ini biasaya di olah sebagai bahan tambahan berbagai masakan dan juga tamabahan lainnya. Terong ini memiliki bentuk yang relatif kecil, berwarna hijau mudah, bertangkai pendek, memiliki biji banyak tetapi kecil dan berwarna kehijauan hingga kecoklatan dan berlendir.

2.2 Pedoman Budidaya Terung
   ·         Syarat tumbuh tanaman terung
 Tanaman terung tumbuh hampir di setiap jenis tanah dengan kisaran pH 5-6. Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Ketinggian tempat yang dapat ditanami tanaman terung antara 1-1200 mdpl dengan suhu optimal 18o-25 oC.
·         Persiapan teknis budidaya terung
Derajat keasaman tanah (pH) perlu diukur untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pemberian kapur pertanian berfungsi untuk menetralkan pH tanah (pH 7) atau setidaknya mendekati netral.  Pengukuran bisa dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan dengan cara zigzag  
   ·         Persiapan lahan
Persiapan  lahan  meliputi  pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan kasar dengan  lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 20 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebany  qak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan  jarak tanam ideal untuk musim kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 60 cm dan kemudian dilakukan pemasangan ajir.
   ·         Persiapan pembibitan dan penanaman
Pada persiapan pembibitan dibutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit yang masih muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. kemudian benih disemaikan pada polibag. Untuk mempercepat perkecambahan benih p   ermukaan media ditutup dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) dan dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai pada jam 07.00 - 09.00, dan dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah dan dilakukan setiap pagi.  Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid pada umur 15 hss (hari setelah semai) dengan dosis ½ dari dosis terendah. Bibit yang sudah memiliki 4 helai daun sejati siap untuk pindah tanam ke lahan
   ·         Penyulaman
Penyulaman dilakukan sampai dengan umur tanaman 2 minggu. Tanaman yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Dan akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.
   ·         Perempelan dan pengikatan tanaman
Perempelan tunas samping pada tanaman terong dilakukan sampai dengan pembentukan cabang, baik pada cabang utama, cabang kedua, ketiga dan seterusnya di atas cabang utama. Jadi di atas cabang utama, cabang yang dipelihara adalah cabang-cabang produktif, dimana cabang-cabang produktif ini selalu diikuti dengan munculnya bunga. Perempelan tunas samping dilakukan pada semua tunas yang keluar di ketiak daun, baik di bawah cabang utama maupun di bawah cabang-cabang produktif. Perempelan tunas di bawah cabang utama bertujuan untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman agar tanaman tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban pada saat tanaman sudah dewasa, sedangkan perempelan tunas dibawah cabang-cabang produktif bertujuan untuk menjaga kelembaban tanaman dan mengoptimalkan produksi.
Perempelan daun di bawah cabang utama dilakukan pada saat tajuk tanaman telah menutupi seluruh daun bagian bawah, pada saat ini daun sudah tidak berfungsi secara optimal, justru sangat disenangi  hama dan penyakit tanaman. Perempelan pada daun juga dilakukan bagi daun tua/terserang penyakit.
   ·         Sanitasi lahan dan pengairan
Sanitasi lahan pada budidaya terong meliputi : pengendalian gulma atau rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, perempelan daun dan pencabutan tanaman yang terserang hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.
   ·         Pemupukan susulan
Pupuk yang digunakan pada pemupukan susulan untuk luas lahan 1 ha, meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran yaitu saat tanaman berumur 15 hst dan 30 hst berikan 3 kg NPK 15-15-15 kemudian larutkan dalam 200 lt air, larutan ini dapat digunakan untuk 1000 tanaman dan masing-masing  tanaman diberikan 200 ml. Pada umur 45 hst dosisnya 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200 lt air, untuk 1000 tanaman dan masing-masing  tanaman diberikan 200 ml. Sedangkan pada umur 60 hst dan 75 hst, dosisnya 5 kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200 lt air, untuk 1000 tanaman dan tiap tanaman 200 ml.
Pupuk daun dengan kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 14 hst dan 21 hst. Sedangkan kandungan Phospat, Kalium dan mikro tinggi diberikan umur 30 hst dan 60 hst.

2.3 Hama dan Penyakit Pada Tanaman Terung
Ø  Hama Tanaman Terung
a)      Ulat tanah
Hama jenis ini menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam
b)      Ulat grayak
Ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
c)      Ulat buah
Ulat menyerang terong dengan cara mengebor buah sambil memakannya. Buah yang terserang akhirnya berlubang. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
d)     Kutu daun
Kutu daun mengisap cairan tanaman terutama pada daun yang masih muda, kotoran dari kutu ini berasa manis sehingga menggundang semut. Daun yang terserang mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, tiametoksam, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
e)      Kutu kebul
Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
f)       Kumbang kuning
Tanaman terong menjadi inang dari kumbang ini, kumbang berwarna kuning dengan seluruh tubuh diselimuti seperti duri. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan
g)      Lalat buah
Lalat buah menyerang buah terong dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur inilah yang akhirnya menggerogoti buah terong sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil.  Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
Ø  Penyakit  pada tanaman terung
a)        Rebah Semai
Rebah semai biasa menyerang tanaman terong pada fase pembibitan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.
b)      Layu bakteri
Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dengan dosis sesuai pada kemasan.
c)      Layu fusarium
Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan  layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis sesuai pada kemasan.
d)     Busuk Phytoptora
Busuk phytopthora menyerang semua bagian tanaman. Batang yang terserang ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun terong yang terserang seperti tersiram air panas. Sedangan serangan pada buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.
e)      Bercak daun
Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai dengan adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun mengeluarkan cairan, akhirnya daun mengering. Pengendaliannya menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.
f)       Antraknosa

Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

DAFTAR PUSTAKA

Redaksi, Alamtani. “Budidaya Terong”. 15 Januari 2016.. http://alamtani.com/budidaya-terong.html

Ruangtani. “Cara Budidaya Terong”. 15 Januari 2016.  http://www.ruangt
ani.com/14-tahap-dalam-cara-budidaya-terong-untuk-menambah-penghasilan-harian/

Kurniawan, Fredi. “Jenis-jenis Terong Budidaya”. 15 Januari 2016. http://fredikurniawan.com/jenis-jenis-terong-budidaya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar