Kamis, 16 Juni 2016

PENAMBAHAN KLORIDA DAN BAHAN ORGANIK PADA BEBERAPA JENIS TANAH UNTUK PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT


              Kelapa sawit (Elaeis guineensis) berkembang pesat di Indonesia dan penggunaan pupuk meningkat. Pada awalnya pupuk KCl memperhitungkan hara K, namun diketahui hara Cl juga merupakan hara mikro esensial. Penelitian bertujuan mempelajari penambahan Cl dan bahan organik terhadap pertumbuhan dan kadar Cl dalam tanaman dan akar kelapa sawit. Bibit kelapa sawit varietas Avros umur tiga bulan ditanam dalam polibag dan dipanen setelah berumur 8 bulan. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah, dengan petak utama empat jenis tanah, dan empat anak petak, yaitu (1) Kontrol (-Cl), (2) KCl, (3) NPK, dan (4) KCl + bahan organik.
Penelitian bertujuan mempelajari penambahan Cl dari pupuk KCl dan NPK serta penambahan bahan organic untuk pertumbuhan dan kadar Cl dalam tanaman dan akar kelapa sawit di pembibitan pada tanah Oxisols, Ultisols, Inceptisols, dan Gambut.
          Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanah, Bogor, pada tahun 2011. Penelitian menggunakan contoh tanah dari Cinangneng, Bogor (Inceptisols), Cigudeg, Bogor (Oxisols), Kentrong, Lebak (Ultisols), dan Sumatera Selatan (Gambut). Rancangan yang digunakan adalah Petak Terpisah, dengan petak utama empat jenis tanah, yaitu (1) Inceptisols, (2) Oxisols, (3) Ultisols, dan (4) Gambut, dan empat anak petak, yaitu (1) KNO3 (kontrol/tanpa Cl), (2) KCl, (3) NPK, dan (4) KCl + bahan organik. Pupuk KNO3 merupakan pupuk sumber K dan N yang tidak mengandung Cl digunakan sebagai perlakuan control (tanpa Cl).
Penelitian bertujuan mempelajari penambahan Cl dari pupuk KCl dan NPK serta penambahan bahan organic untuk pertumbuhan dan kadar Cl dalam tanaman dan akar kelapa sawit di pembibitan pada tanah Oxisols, Ultisols, Inceptisols, dan Gambut.
             Tabel 1. Pemupukan diberikan dua minggu sekali, dimulai pada umur tanaman satu minggu setelah tanam. Pemupukan berikutnya dan seterusnya dilakukan pada umur 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam. Dosis pemupukan diberikan dua kali lipat dari yang diberikan pada minggu pertama. Selanjutnya, pemupukan pada umur 10, 12, 14, dan 16 minggu setelah tanam dosis pemupukan yang diberikan tiga kali lipat dari dosis minggu pertama. Setiap perlakuan diulang 4 kali.



Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, diameter batang, bobot tanaman dan akar, serta analisis Cl dalam tanah, daun, dan akar bibit kelapa sawit. Tinggi tanaman bibit kelapa sawit diukur dari permukaan tanah sampai pada bagian tanaman tertinggi. Diameter batang diukur melingkar batang tanaman bagian bawah + 5 cm dari permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Data bobot tanaman diambil dengan memotong batang kelapa sawit di permukaan tanah, sedangkan akar tanaman merupakan akar dari bibit kelapa sawit. Contoh akar dan tanaman setelah panen dianalisis hara Cl. Contoh akar dan tanaman setelah panen diambil pada setiap pot atau perlakuan. Contoh tanaman diambil dengan cara memotong tanaman mulai dari permukaan tanah, dengan cara memisahkan daun dengan tangkainya kemudian mengeringkan dan menggiling serta menganalisis Cl. Akar tanaman kelapa sawit diambil dengan cara membongkar akar, membersihkan dengan air, mengeringkan, menggiling, dan menganalisis Cl. Prinsip analisis Cl adalah menetapkan ion Cl- secara argentometri dengan metode Mohr. Analisis Cl dilakukan dengan cara menimbang 1 g contoh tanah kemudian memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml, menambah 50 ml aquadest, dan mengocok dengan mesin pengocok selama 30 menit dengan kecepatan 200 goyangan/menit. Sesudah itu, larutan ditambah air aquadest sampai tera 100 ml dan dikocok dengan tangan (membolak-balik). Larutan yang terbentuk disaring dengan kertas saring sampai jernih. Ekstrak jernih hasil saringan diambil sebanyak 10 mlkemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahbeberapa tetes indikator kromat 5%. Setelah itu, larutan dititar dengan larutan AgNO3 0,01N sampai terbentuk endapan merah bata. Volume titran (Vc) dicatat dan dibuat juga penetapan blangko dari air aquadest (Vb).


Ion Cl-, dalam ekstrak yang diberi indikator khromat, akan bereaksi dengan ion perak (Ag+) dari AgNO3-, sehingga endapan putih. Sementara itu, kelebihan Ag+ dengan khromat membentuk endapan berwarna merah bata.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisik dan Kimia Tanah
Tanah Oxisol yang digunakan untuk percobaan bertekstur liat dengan kadar liat 90% (Tabel 2). Tanah bereaksi masam dengan selisih pH larut KCl 1 N dan air bebas ion negatif. Hal ini menunjukkan bahwa tanah tersebut dapat memegang hara kation. Hara P potensial tinggi, namun P tersedia rendah, dan kadar K potensial rendah. Kadar P yang rendah mungkin difiksasi Al, Fe, dan Mn.
Tanah Inceptisols yang digunakan bertekstur liat berdebu, dan pH tanah termasuk tinggi, selisih pH larut dalam KCl 1 N dan air negatif. Kadar C-organik dan Ntotal sedang, kandungan P potensial dan P tersedia tinggi, kadar Ca sedang, Mg tinggi, dan K rendah. Tanah Ultisols yang digunakan bertekstur liat, pH tanah untuk tanaman kelapa sawit termasuk tinggi, selisih pH larut dalam 1 N KCl dan air negatif, kandungan C-organik sedang, dan Ntotal tinggi. Sementara itu, kandungan P tersedia sangat rendah, K dapat dipertukarkan rendah, Mg tinggi, dan KTK tanah sedang. Tanah gambut bertekstur lempung liat berdebu dan pH larut dalam air termasuk sangat rendah, kandungan C-organik, dan N-total sangat tinggi. Sementara itu, P tersedia termasuk rendah, kandungan K dan Mg dapat dipertukarkan rendah, sedangkan KTK tanah termasuk tinggi. Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa tanah Inceptisols yang digunakan untuk percobaan lebih subur dari pada Oxisols dan Ultisols.
Hasil penelitian yang dilakukan di Papau New Guini dan Indonesia menunjukkan bahwa hasil kelapa sawit tinggi terjadi di Indonesia pada tanah dengan pH lebih rendah (NELSON et al., 2011). Pemupukan hara Cl pada tanah Inceptisols tidak berpengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa penambahan Cl sebagai ikutan pupuk KCl, MOP, maupun NPK majemuk tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit di pembibitan. Pemberian bahan organik tidak dapat meningkatkan tinggi tanaman kelapa sawit di pembibitan. Pemberian hara Cl dari pupuk KCl dan NPK tidak dapat meningkatkan diameter batang tanaman kelapa sawit (Tabel 4). Demikian juga dengan penambahan bahan organik tidak meningkatkan diameter batang. Penambahan hara Cl dan bahan organik tidak meningkatkan bobot kering tanaman bibit kelapa sawit pada tanah Inceptisols. Bobot kering akar kelapa sawit tidak dipengaruhi oleh penambahan hara Cl (Gambar 1). Penambahan bahan organik berupa kompos tandan kosong kelapa sawit nyata meningkatkan bobot akar kelapa sawit. Hal ini mungkin disebabkan penambahan bahan organic dapat memperbaiki sifat fisik,


kimia, dan biologi tanah. Penambahan kompos sisa tanaman kelapa sawit dapat meningkatkan pH tanah Ultisols dari 3,98 menjadi 4,54 mg/kg; hara P tersedia meningkat dari 10,81 menjadi 18,79 mg/kg; dan Al dapat dipertukarkan menurun dari 2,12 menjadi 1,26 mg/kg (BUDIANTA et al., 2010).

Pertumbuhan tanaman kelapa sawit lebih rendah dengan penambahan Cl pada tanah Oxisols. Pemberian hara Cl ke dalam tanah Ultisols secara dapat nyata meningkatkan tinggi tanaman kelapa sawit di pembibitan. Pemberian hara Cl dan bahan organik pada tanah gambut tidak dapat meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang kelapa sawit di pembibitan. Pemupukan hara Cl tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada Inceptisols.
KESIMPULAN
Pemupukan hara Cl tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada Inceptisols, Ultisols, dan gambut, namun dapat menurunkan pertumbuhan bibit pada tanah Oxisols. Pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman kelapa pada keempat tanah yang digunakan. Pemberian hara Cl tidak berpengaruh terhadap bobot kering tanaman bibit kelapa sawit pada tanah Inceptisols dan gambut, namun dapat meningkatkan bobot kering tanaman pada Ultisols. Pemberian hara Cl tidak meningkatkan bobot kering akar tanaman kelapa sawit pada keempat tanah yang digunakan, namun pemberian hara Cl dalam tanah meningkatkan kadar Cl dalam akar tanaman kelapa sawit pada keempat contoh tanah yang digunakan. sementara itu, pemberian hara Cl tidak meningkatkan kadar Cl dalam daun, kecuali pada Oxisol. Pemberian bahan organik menurunkan kadar Cl dalam daun kelapa sawit pada tanah Ultisol dan gambut.

DAFTAR PUSTAKA
ANONYMOUS. 2011. Basisdata Pertanian tahun 2011. www.deptan.go.id, 18 April 2013.
ADE OLUWA, O.O. and G.O. ADEOYE. 2008. Potential of oil palm empty fruit bunch (EFB) as fertilizer in oil
plam (Elaeis guineensis L. Jacq.) nurseries. 16th IFOAM Organic World Congress, Modena, Italy. June,16-20th 2008.
EFFENDI, D.S. dan A. KASNO. 2011. Kandungan klor tanaman kelapa sawit berdasarkan jenis tanah dan penggunaan pupuk. Prosiding. Seminar Nasional Inovasi Perkebunan, Jakarta, 15 Oktober 2011. 92- 99. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
EVIATI dan SULAEMAN. 2009. Analisis kimia tanah, tanaman, air, dan pupuk. Petunjuk Teknis Edisi 2.
WIGENA, I.G.P., J. PURNOMO, E. TUBERKIH, dan A. SALEH. 2006. Pengaruh pupuk Slow Release majemuk padat terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit muda pada Xanthic Haludox di Merangin. Jurnal Tanah dan Iklim. 24: 10-19.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar